site stats
Indonesia

Suku Penguasa Lembah Baliem dan Puncak Jayawijaya

Wim Motok Mabel

Indonesia sudah terkenal akan ke-aneka ragaman suku, tradisi  yang tersebar dari ujung Sumatera sampai dengan Papua. Salah satunya yaitu suku Dani di Papua yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu, dan di kenal sebagai petani yang terampil dan menggunakan alat perkakas pertanian yang diketahui pada awal mula ditemukan telah menggunakan kapak batu.

Nama Dani bermakna orang asing, yaitu berasal dari kata Ndani, tapi karena ada perubahan fenom N hilang dan menjadi Dani saja. Suku Dani sendiri sebenarnya lebih senang disebut suku Parim.

Suku Dani suka sekali mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme atau kisah-kisah sedih untuk memberikan rasa semangat dan juga selingan waktu mereka bekerja, alat musik Pikon merupakan pengiring senandung atau dendang ini sendiri adalah biasanya adalah alat musik pikon, yakni satu alat yang diselipkan diantara lubang hidung dan telinga mereka, disamping sebagai alat pengiring nyanyian, bisa juga berfungsi ganda sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu.

Modernisasi yang masuk ke Indonesia tidak membuat mereka meninggalkan tradisi dan kepercayaan kepada Roh Leluhurnya, walaupun bisa ditemukan beberapa sudah menggunakan pakaian untuk penutup badannya dan masih banyak juga menggunakan Koteka (penutup kemaluan pria) terbuat dari kunden/labu kuning dan para wanita menggunakan pakaian dari rumput (serat) yang tinggal di Honai (rumah khas suku Dani beratapkan Jerami / Ilalang) , ukurannya tergolong mungil, bentuknya bundar, berdinding kayu. Namun, ada pula rumah bentuknya persegi panjang Ebe’ai (Honai Perempuan).

Ini beberapa fakta unik suku Dani

Wim Motok Mabel, Panglima perang Mumi Hitam yang Merupakan Mayat Leluhur

Mumi Wim Motok Mabel

Nama Wim Motok Mabel pun menggambarkan siapa yang dahulu mengisi raga yang diawetkan ini. Wim berarti perang, Motok menggambarkan pemimpin, panglima, dan Mabel adalah nama panglima perang ini.

Sebagai sosok yang disegani, saat Wim Motok Mabel meninggal, jenazahnya diawetkan. Tujuannya agar sosok Wim Motok tidak hilang dari ingatan
penduduk area Jiwika, agar keluarga panglima perang ini ingat betapa diseganinya Wim Motok di masa jayanya. Wim Motok Mabel juga meminta agar dirinya dijadikan mumi jika ia meninggal, dan kini ia tidak hanya menceritakan masa lalu namun menjadi penarik minat turis mengunjungi desa kecil di Distrik Kurulu, Wamena.

Usia mumi panglima perang ini sekitar 278 tahun, ini dihitung dari jumlah tali di lehernya yang ditambah setiap tahun berganti. Saya bisa melihat bagian bagian yang mulai rusak, kulit yang hitam mengeras di beberapa sudut siku mulai rusak dan memperlihatkan bagian tulang.

Tidak hanya proses pengawetan, untuk menyimpan mumi pun perlu kondisi khusus agar dapat terus bertahan namun tentunya di Desa Jiwika, mumi hanya disimpan di honai, rumah tradisional di Papua.

 Tradisi Potong Jari sebagai ungkapan duka


Merupakan hal yang wajar kita rasakan saat kehilangan orang yang kita cintai. Beragam banyak cara dilakukan untuk mengekspresikan rasa duka yang mendalam, salah satu tradisi yang ada di Indonesia terutama di Papua yaitu suku Dani, tradisi potong jari tangan merupakan simbol untuk menunjukkan betapa mereka sangan kehilangan orang yang disayangi.
Dalam kepercayaan suku Dani, seorang yang sudah mati masih memiliki hubungan dengan keluarga yang masih hidup, agar hubungan tersebut menjad seimbang maka manusia yang masih hidup menyerahkan sebagian dari rohnya kepada orang yang sudah meninggal tersebut.

Prosesi pemotongan  jari dimulai dengan upacara, tangan diikat diantara sela-sela jari agar bisa dipotong dan tidak mengeluarkan banyak darah, sebelum memotong jari, wanita tersebut membaca doa ritual khusus. Setelah doa selesai barulah jari tersebut dipotong tanpa menggunakan obat penahan sakit.

Namun saat ini pemerintah sudah memberikan larangan untuk melakukan tradisi potong jari. Karena tradisi ini diangggap kurang manusiawi. Tetapi bekas dari tradisi ini masih bisa dilihat pada ibu-ibu dan nenek-nenek suku Dani

Tradisi Bakar batu sebagai tradisi wujud kerukunan

Tradisi Bakar Batu

Salah satu tradisi penting di Papua terutama di suke Dani, fungsi tradisi bakar batu ini sebagai rasa syukur, menyambut kelahiran atau mengumpulkan prajurit untuk berperang.

Tradisi Bakar Batu, dilakukan oleh suku yang berada di bagian pedalaman yaitu Lembah Baliem, yang sudah terkenal cara memasaknya dengan cara membakar batu. Pada perkembangannya, tradisi bakar batu ini mempunyai berbagai nama, misalnya masyarakat di Kab. Paniai menyebutnya Gapiia, dan yang lainya di Kab. Wamena menyebutnya Kit Oba Isogoa (Versi LainyaBarapen).

Persiapan awal tradisi ini masing – masing kelompok menyerahkan hewan babi sebagai persembahan, sebagain ada yang menari, lalu ada yang
menyiapkan batu dan kayu untuk dibakar. Proses ini awalnya dengan cara menumpuk batu sedemikian rupa lalu mulai dibakar sampai kayu habis
terbakar dan batu menjadi panas. Setelah itu, babi yang telah di persiapkan tadi dipanah terkebih dahulu. Biasanya yang memanah adalah
kepala suku dan dilakukan secara bergantian. pada Tradisi ini ada pemandangan yang cukup unik dalam ritual memanah babi. Ketika semua
kepala suku sudah memanah babi dan langsung mati, pertanda acara akan sukses dan bila tidak babi yang di panah tadi tidak langsung mati,
diyakini acara tidak akan sukses.

Tahap berikut adalah memasak babi tersebut. dalam pengerjaan tahap ini yang Para lelaki menggali lubang yang cukup dalam, kemudian batu panas dimasukan ke dalam galian yang sudah diberi alas daun pisang dan alang – alang sebagai penghalang agar uap panas batu tadi tidak menguap.

Di atas batu panas diberikan dedaunan lagi, baru setelah itu disimpan potongan daging babi bersama dengan sayuran dan ubi jalar, Setelah makanan itu matang, semua Suku yang hadir pada saat acara bakar batu ini, berkumpul dengan kelompoknya masing – masing dan mulai makan bersama. Tradisi ini dipercaya bisa mengangkat Solidaritas dan kebersamaan rakyat Papua.

Hingga saat ini Tradisi Bakar Batu masih Terus di lakukan.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker