site stats
Indonesia

Penemuan kerangka Satwa purba di Lembah Walanae Sulawesi

Kepunahan satwa purba ini masih menjadi misteri.

Indonesia sangat banyak memiliki potensi sumber daya geologi yang tersebar di berbagai pulau dan akan sangat bermanfaat perkembangan sumber ilmu pengetahuan. Penemuan kerangka Satwa purba di Lembah Walanae Sulawesi salah satu kawasan yang banyak ditemukan  koleksi fosil vertebrata yang mirip babi hutan atau nama latinnya Celebochoerus heekereni  yang merupakan satwa endemik di kawasan lembah tersebut.

Iwan Kurniawan, Kepala Museum Geologi, menambahkan, dari lembah Walanae telah dikoleksi ribuan fosil fauna. Namun pengecualian untuk Celebochoerus Heekereni merupakan yang sangat dominan, menjangkau lebih dari 85%  dari populasi fosil yang dikumpulkan.

Fosil hewan yang mirip dengan Babi Hutan mulai terkuak pada tahun 1986 dan merupakan fosil yang paling lengkap didunia baru berhasil direkonstruksi lengkap tahun 2018, usianya berkisar 2 – 3 juta tahun yang lalu yang hidup di lingkungan darat pulau Sulawesi

Lebar tubuh kerangka Celebochoerus Heekereni  atau mirip Babi Hutan ini sekitar setengah meter, dengan tinggi lebih kurang semeter dengan panjang hampir dua meter.

Ahli paleovertebrata, Fachroel Aziz mengatakan, fosil yang dilengkapi dengan taring yang mencuat seperti hewan kerbau di ujung moncongnya, dan dua taring kecil yang permukaannya agak kasar, membuat perkiraan tampilan fosil hewan ini sangat kekar. Coba di andaikan kerangka ini ditambahkan dengan kulit, daging dan organ lainnya, “Ukurannya akan lebih besar dari babi rusa”.

Fosil hewan purba yang di identifikasi dengan Celebochoerus heekereni ini baru sebagian kecil temuan yang berada di Lembah Walanae, Sulawesi Selatan.

Selain babi purba, juga diketemukan dua fosil tengkorak gajah kerdil ber-spesies Stegodon sampoensis dan gajah bergading empat “Elephas” celebensis. Dan juga terdapat  fosil bagian bawah atau perut kura-kura raksasa Geochelone atlas.  “Ukuran aslinya yang lengkap dengan batok diperkirakan sebesar mobil sedan,”.

Di Lembah Walanae juga ditemukan ribuan fosil  jenis hewan darat mamalia vertebrata (bertulang belakang) atau menyusui  khas endemik Sulawesi. Selain tengkorak, terdapat juga taring, geligi, tulang kaki dan jemari.  “Umur semua fosil diperkirakan sekitar dua juta tahun,” .

Fosil purba di lembah yang keberadaanya di kabupaten Soppeng dan Bone jarang ditemukan fosil utuh dan lengkap, kebanyakan keberadaan fosil berserakan, ada yang terpendam dalam bumi atau di dinding tebing lembah yang dialiri Sungai

Lembah Wallanae merupakan salah satu situs paleolitik atau zaman batu. Lokasi ini bisa dikatakan sebagai  kuburan makhluk purba, baik yang menetap maupun akibat terbawa aliran sungai dan mengendap.

“Luas situs di lembah Walanaea  sekitar kurang lebih 5 x 10 kilometer persegi,”  ini merupakan temuan dari Hendrik Robert Van Heekeren yaitu ahli ekspedisi prasejarah Indonesia yang berkebangsaan Belanda, yang khusus untuk mendata fosil mahluk bertulang belakang di Sulawesi, pada sekitar tahun 1947. Pada saat itu Hendrik Robert dan tim sedang melakukan survei Arkeologi di Desa Beru dan Desa Sompoh yang berada di Kecmatan Cabenge dan sekarang adalah Kabupaten Soppeng.

Sepotong taring buntung

Temuan Arkeologi ini  menyingkap kekayaan fosil makhluk purba di Lembah Walanaea. Temuan koleksi aneka fosil  itu kemudian diperiksa dan diteliti oleh Dirk Albert Hooijer di Belanda.

Sepotong taring buntung mencuri perhatian Dirk Alber Hoojier, karena taring itu ditemukan di permukaan tanah, kemudian pada tahun 1948, Dirk Hoojier mempublikasikan hasil riset taring buntung temuannya, dan menyatakan bahwa benda itu merupakan salah satu bagian dari babi purba, yang kemudian Dirk Hoojier memberikan nama Spesies itu Celebochoerus heekereni.

Hooijer dalam dalam serial publikasi 1948-1972, mendeskripsikan, kelompok fosil lain sebagai fauna Cabenge atau lebih dikenal juga sebagai Archidiskodon Celebochoerus Fauna

Photo: medium.com/@sonyakrtw

Pulau Sulawesi yang berbentuka laksana abjad F dan K yang menyatu, sangat unik dan menarik secara geologi, fauna, dan floranya. Menyadari keunikan tersebut, seorang Ahli biologi berkebangsaan Inggris, Alfred Russel Wallace pada 1836 membuat pola khayal, yaitu garis pemisah berdasarkan asal fauna di Nusantara.

Alfred Russel Wallace sangat menyadari, ada perbedaan karakteristik antara hewan di pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi, bali dan Lombok, walaupun setiap pulau itu saling berdekatan

Migrasi hewan ini bisa disebabkan oleh iklim, dan perkiraan terjadinya yaitu sekitar 2-3 juta tahun lampau. Kumpulan satwa yang tidak dapat bertahan di suhu dingin, akan mencari daerah yang ber-suhu lebih hangat. Salah satunya gajah, hewan ini merupakan salah satu yang ber migrasi karena gajai walaupun bertubuh besar, dapat mengandalkan belalai untuk pernafasan dan system metabolism yang dapat menghasilkan gas dan membuat badan gajah yang tambun dapat mengapung di perairan.

Berbagai macam Satwa yang memasuki wilayah Sulawesi pada waktu lampau, kemudian juga menjadi terisolir. Satwa daerah Sulawesi (Celebes) karena banyak mutase gen, menjadikan satwa endemic atau khas yang mendiami wilayah tertentu akan menjadi unik dan faktor ini membuat garis keturunannya sulit dilacak

Berdasarkan tengkorak dan taring, sebagai salah satu komponen pembeda spesies hewan. Celebochoerus  misalnya, berbeda dengan hewan Babi Rusa (Babyrousa). Walapun kalau diperhatikan secara fisik hampir mirip bentuk geraham, tetapi taringnya berbeda.

Celebochoerus  memiliki kemiripan dengan Babi Hutan Afrika, terutama di bagian taring, tetapi geraham dan bentuk tengkoraknya tidak sama.

Sampai saat ini sebaran hewan endemic Celebochoerus di Sulawesi ini, baru ditemukan jejak dan fosilnya di Lembah Walanae. Kemungkinan beberapa faktor punahnya hewan ini karena Letusan Gunung api ataupun perburuan.

Sampai saat ini lembah Walanae masih menyimpan banyak hal yang belum terjawab dan menjadi misteri untuk diungkapkan para peneliti dan ilmuwan, untuk dapat ditelusuri nenek moyang fauna di Indonesia. (SG)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker