site stats
Unik

Peneliti menemukan Cadangan Air Tawar Raksasa di Bawah Laut Atlantik

Para peneliti berhasil memetakan reservoir (cadangan) air tawar yang terisolir di dasar laut

Ribuan tahun yang lalu, sebagian besar planet bumi tertutup oleh gletser. Gletser atau glasier, adalah bongkahan es yang besar yang terbentuk di atas permukaan tanah yang merupakan akumulasi endapan salju yang membatu selama kurun waktu geologi.

Lautan surut ketika air membeku di lapisan es besar yang menyelimuti benua Amerika Utara. Saat zaman es berakhir, gletser pun mencair. Delta sungai besar mengalir keluar melintasi landas kontinen. Lautan naik, dan air segar terperangkap dalam sedimen di bawah laut.

Dilaporkan dalam edisi terbaru jurnal Scientific Reports, para ilmuwan dari Columbia University dan Woods Hole Oceanographic Institution menghabiskan 10 hari di kapal riset yang menarik sebuah sensor elektromagnetik dari New Jersey ke Massachusetts sejauh 350 melewati pantai-pantai di perairan sekitar New York, Rhode Island, dan Connecticut.

Dengan mengukur cara gelombang elektromagnetik melintasi air tawar dan air asin, para peneliti berhasil memetakan reservoir (cadangan) air tawar yang terisolir di dasar laut  .

Ternyata cadangan air tawar dalam jumlah besar di bawah laut ini membentang  di lepas pantai Atlantik Amerika Serikat, yang berisi banyak sekali cadangan air tanah salinitas rendah, sekitar dua kali volume Danau Ontario. Endapan air tawar ini berada 183 m di bawah dasar laut dan membentang ratusan kilometer.

Akuifer ini mengandung 2.800 kilometer kubik air tawar. Akuifer ini juga diperkirakan berumur sangat tua. Setidaknya sudah ada dari zaman es.

Para ilmuwan mendapat petunjuk pertama bahwa ada akuifer di bawah laut pada tahun 1970-an, ketika sebuah perusahaan yang mengebor wilayah pantai untuk mencari minyak menabrak tampungan air tawar tersebut. Namun belum jelas apakah endapan air tawar ini adalah sebuah kantong air yang terisolasi dan sejauh apa bentangannya.

“Kami tahu ada air tawar di sana di tempat-tempat yang terisolir satu sama lain, tetapi kami tidak tahu luas dan bentangannya” kata pemimpin tim Chloe Gustafson, seorang kandidat PhD di Lamont-Doherty Earth Observatory, Universitas Columbia, seperti dilansir  Phys.org. “Cadangan air tawar ini  bisa menjadi sumber daya penting di bagian lain dunia.”

Ukuran dan luasnya endapan air tawar menunjukkan bahwa mereka juga mendapatkan suplai oleh limpasan air dari daratan — dan mungkin ada di tempat lain dengan topografi yang serupa.

Menurut studi tersebut, ada dua cara berbeda mengapa kolam air tawar ini bisa ada di bawah laut.

“Kira-kira 15 ribu hingga 20 ribu tahun lalu, menjelang akhir zaman glasial, kebanyakan cadangan air dunia terkunci di dalam es. Di Amerika Utara, itu meluas ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai New Jersey, Long Island, dan New England di Amerika Serikat,” papar peneliti.

“Permukaan laut saat itu jauh lebih rendah sehingga dapat memperlihatkan landas benua di bawah air. Ketika es mencair, sedimen membentuk delta sungai yang besar di atas landas benua dan air tawar terperangkap di sana. Namun sayangnya, permukaan laut kembali naik sehingga menutupinya,” tambah mereka.

Seorang peneliti lain, Kerry Key menyebutkan bahwa akuifer ini kemungkinan tidak bermukim lama di bawah laut Atlantik. Mereka akan terdorong ke laut dari daratan yang disebabkan oleh adanya tekanan naik dan turun ombak lautan.

Dia menambahkan bahwa ujung akuifer yang paling banyak mengandung air tawar terletak dekat dengan pantai dan semakin jauh, airnya semakin asin, yang mengindikasikan bahwa akuifer ini perlahan bercampur dengan air laut.

Key menyebutkan air tawar yang dekat dengan daratan, tingkat perbandingannya sekitar 1 bagian per seribu air laut, sama seperti keadaan air tawar di darat pada umumnya.

Sebaliknya, tingkat perbandingan garam di air tawar di daerah tepi luar akuifer adalah sekitar 15 bagian per seribu, yang masih lebih rendah dari tingkat air laut pada umumnya yaitu 35 bagian per seribu.

Para peneliti mengatakan, jika berhasil mendapatkan air tawar tersebut, kita tidak perlu melakukan penyulingan garam. Itu bisa menjadi cadangan air bersih untuk dunia.

“Kita mungkin tidak perlu melakukan itu, tetapi setidaknya jika kita dapat menunjukkan ada akuifer besar di wilayah lain, bisa memunculkan potensi sumber daya air baru,” tambah Key.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker