site stats
Inspirasi

Lasiyo Professor Pisang dari Dusun Ponggok Bantul

Berani memberikan jaminan uang kembali jika bibitnya gagal tanam atau mati

Pisang, salah satu buah yang sangat lekat dengan kehidupan, dikonsumi segala usia mulai anak anak hingga orang tua. Buah pisang sangat mudah didapatkan di Indonesia ini,  tanaman ini mudah tumbuh di sembarang lahan, Dalam hitungan bulan pohon pisang siap menghasilkan buah.

Pisang adalah komuditas pertanian yang lalulintas perdagangannya bisa di bilang sangat tinggi, tak heran jika nilai ekonomi pisang mengikat para petani.

Seperti inspirasi obrolan santai kali ini, Lasiyo yang dilahirkan pada tahun 1955 dan memiliki nama lengkap Lasiyo Syaifudin, petani pisang dari Dusun Ponggok Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dan kerap di panggil “Professor Pisang“, karena pengetahuannya yang luas pada tanaman ini.

Professor Lasiyo hanya mengantongi pendidikan Paket B atau hanya setara SMP, tapi ia berhasil tidak hanya sekadar menanam dan memelihara pisang tetapi juga menangkarkan bibit pisang yang bernilai ekonomis.

Dalam menjual bibit, ia berani memberikan jaminan uang kembali jika bibitnya gagal tanam atau mati.

Dedikasinya yang tak kenal lelah pada produk pangan yang bersih lingkungan dan berkualitas baik mengantarkannya ke Italia untuk mengikuti undangan  undangan sebuah organisasi komunitas pangan yaitu pertemuan Salone del Gustro Terra Madre (SGTM) di Italia,  pada 2016, ia untuk membagi ilmu pada khalayak internasional.

Lasiyo berkesempatan untuk mengenalkan pisang dan teknik budidayanya ke dunia internasional.  Kelompok Slow Food Yogyakarta yang memiliki misi konsen untuk keberagaman tanaman yang memilik nama latin Musa Paradisiaca Pisang ini. Kelompok ini mengajak Lasiyo dan kelompok Taninya yang sudah menekuni bidang pertanian pisang sejak tahun 1997.

Pitedae Gesang

Tidak seperti petani biasa, Lasiyo mempunyai pengetahuan yang luas tentang tanaman pisang. Menurut dia Tanaman pisang memiliki filosofi dalam bahasa Jawa Pitedae Gesang ,  yang maksudnya “barang siapa yang menginginkan  hidayah dan petunjuk dari Tuhan YME, maka pisang itu boleh di contoh karena pisang andaikata induknya mau mati akan meninggalkan tunas atau anakan yang banyak”. Kalau tumbuhan lain belum tentu meninggalkan tunas, kalau pisang pasti.

Itulah Filosofi Lasiyo dalam menerjemahkan pisang  sebagai buah yang lekat dengan kehidupan, pisang seakan membawa pesan hidup  agar ia membudidayakan tanaman ini.

Gempa yang mengguncang Yogyakarta pada tahun 2006 merupakah salah satu titik balik Profesor Pisang ini, saat itu situasi warga mengalami hal yang memilukan di kabupaten Bantul. Gempa yang memakan ribuan jiwa ini mempunyai dampak yang besar di empat kecamatan , salah satunya di bambang Lapuro tempat tinggal Lasiyo.

Jika tidak terjadi gempa, bisa jadi Lasiyo tidak menanam pisang , lahan sawah yang di tanami padi, merupakan pemandangan biasa di desa ini, ketika akhirnya Lasiyo memilih pisang, padi masih mendominasi sebagai sumber mata pencaharian.

Pada tahun 2007 mulai ber inisiatif mulai ber experiment dengan tanaman yang cepat berbuah, dilahan seluas 600 meter persegi di dekat rumahnya di Dusun Ponggok, Lasiyo sehari-hari merawat ratusan pohon pisang.

Awalnya Lasiyo melirik pisang raja sebagai  pisang yang bernilai ekonomis tinggi, selain itu pisang tidak memakan waktu lama untuk berbuah, rata-rata usia 8-9 bulan sudah bisa panen. Kemudian Lasiyo dan beberapa warga bergabung ke dalam Kelompok Unit Pengelola Farmer Manage Activities (UPFMA) di tahun 2008 untuk mendapatkan pelatihan pisang lebih mendalam

Saat ini bukan saja hanya menanam pisang, Lasiyo di halaman rumahnya juga sudah membibit tanaman pisang. Lasiyo bisa menangkar sekitar 9 bibit varietas  dari sekitar lebih dari 15 verietas bibit pisang yang beliau ketahui. Dan dari 9 varietas yang di buat bibitnya, pisang raja bulu yang paling banyak permintaan khususnya di kabupaten bantul  dan umumnya di Yogyakarta, Karena menurutnya Pisang Raja Bulu  itu tandanannya besar, buahnya besar atau bisa juga di sebut pisang tarub. Biasanya untuk hajatan, resepsi pesta menantu yang diletakkan sepasang di pintu masuk pelaminan.

Pisang Raja Bulu
Pisang Raja Bulu

Ketekunannya pada pisang ternyata membawa pengaruh kepada warga desa, penguasaannya yang mumpuni pada buah pisang ini, menjadikan dia menjadi petani yang diperhitungkan namun memperdagangkan bibit pisang bukan tujuan utama hidupnya. Lasiyo mengajak warga desa, bangkit dari keterpurukan  akibat bencana gempa.

Dia mempunyai ide untuk mengembangkan pisang, beliau mengajak warga desa dengan cara, “barang siapa yang menanam 50 pohon pisang per orang di halaman rumahnya, akan mendapatkan gratis bibit pisang.

Keunggulan Budidaya Pisang Pak Lasiyo

“Professor Lasiyo” menerapkan sistim pertanian yang berbasis ramah lingkungan, karena menggunakan produk tanaman pisang, bersama warga yang tergabung dengan kelompok tani memproduksi sendiri pupuk dan zat pengatur tumbuh atau ZPT , pestisida Nabati.

Semua dibuat secara organik dengan bahan baku yang mudah di jumpai, seperti daun mahoni, daun tempuyung, temu ireng dan beberapa batang bangle.

Semua di iris dan di rebus dengan air mendidih dan hasil rebusannya ini bisa di manfaatkan esok harinya. Pestisida yang di hasilkan, selain bersifat organik dan sangat bernilai ekonomis, karena pestisida yang diolah lebih murah di banding dengan membeli pestisida di pasaran.

Menurutnya, tanaman pisang yang sudah terkena virus tumbuhan, bonggolnya akan berwarna coklat hatinya juga coklat, sampai pisangnya juga nanti akan berwarna coklat, dan pada akhirnya pisang akan terasa pahit.

Salah satu penyakit berbahaya yang sering menyerang tanaman pisang adalah penyakit Layu Fusarium, penyebabnya yaitu jamur Patogen Fusarium Oxysporum.

Dengan semangat, keuletan dan kegigihan serta komitmennya yang tinggi dalam melestarikan pisang lokal secara organik telah memberikan begitu banyak penghargaan, sejak 2008 hingga kini, puluhan apresiasi tingkat lokal hingga internasional sudah di terima. Sejumlah instansi pemerintahan mengganjarnya sebagai petani berprestasi.

Semua hasil kerja kerasnya menjadikan pisang sabagai salah satu contoh kemandirian pangan, dedikasinya yang tidak kenal lelah pada produk pisang berkualitas baik dan memiliki harga pasaran.

Menjadikan lasiyo sebagai Petani yang masih menggunakan cara-cara tradisional non kimiawi dan jauh dari unsur eksploitasi.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker