site stats
Indonesia

Katak Raksasa dari Enrekang Sulawesi Selatan mulai Langka

Kekayaan fauna di Indonesia memang sangat banyak sekali, diantaranya Katak Raksasa dari Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan yang sudah mulai Langka.

Katak Raksasa dari Enrekang ini Bahasa latinnya Limnonectes Grunniens, beberapa waktu lalu ditemukan di Kampung Banca, Kecamatan Baraka, Enrekang Sulawesi Selatan. Dalam bahasa setempat (bahasa lokal) disebut “Todan”

Todan atau Limnonectes adalah genus katak dari familia Dicroglossidae, Genus ini secara kolektif dikenal sebagai katak bertaring.

Katak yang dikelompokkan dalam genus Limnonectes ini disebut bertaring karena memiliki tonjolan tulang di rahang bawah.

Taring yang dimiliki jenis katak ini bukan berarti gigi taring yang sebenarnya, sebab tak memiliki akar gigi atau ciri-ciri gigi lainnya.

Wilayah sebaran katak ini mencakup Sulawesi, Maluku, dan Papua. Meski habitat katak ini makin terbuka dan populasi (berkaca di Enrekang) mulai menurun jenis ini belum masuk dalam daftar yang dilindungi.

Amir Hamidy, Ahli binatang Amfibi dan reptil dari LIPI  yang pernah melakukan perjalanan ke Pegunungan Gandang Dewata, bisa seperti pawang herpet. Saat hujan, dia sigap menelusuri hutan. Membawa senter, kamera dan alat rekaman. Tak hanya piawai melihat fisik katak, dia juga dapat menerka jenis melalui suaranya

Menurut dia, keberadaan dan populasi katak sehat di suatu wilayah itu mengindikasikan lingkungan masih baik. Katak jadi salah satu fauna cukup riskan akan perubahaan lingkungan.

Ungkapan Amir bagi saya cukup beralasan. Di Kecamatan Baraka, pembukaan lahan untuk perkebunan bawang sangat massif. Pada Maret 2017, saat saya mengunjungi tempat itu, sepanjang mata memandang hanya terlihat hamparan pertanian bawang. Di pesisir sungai, hingga puncak-puncak bukit.

Meski katak ukuran besar ini cukup menyeramkan bagi sebagian orang, namun banyak yang memburu buat konsumsi, ditambah kerusakan habitat– pembukaan lahan (hutan) ke fungsi lain–hingga katak raksasa makin sulit ditemui. Akankah membiarkan mereka punah?

Katak Raksasa dari Enrekang mulai Langka

Habitat dan Ekologi

Ini adalah spesies semi-air yang hidup dan berkembang biak di sepanjang sisi dan di sungai kecil, besar, rawa dan kolam di hutan hujan tropis. Hal ini juga ditemukan di taman pedesaan, kolam besar, dan hutan yang terdegradasi

Di Enrekang, katak ini masih dapat di jumpai di beberapa tempat terutama di daerah pinggiran sungai, hutan primer dan kebun warga yang berdekatan dengan sumber Air.

Berat tubuh Katak Enrekang yang pernah di ketahui seberat 1,6 Kg.

Tengkorak dan rahang mulut katak raksasa ini saat tertutup terlihat lancip, dan ketika bersuara, penduduk lokal melafalkan seperti orang tua yang sedang batuk.

Endemi katak raksasa Enrekang ini sudah mulai langka, menurut warga lokal, sekitar awal tahun 2000-an, jenis katak ini masih bisa ditemukan dan di tangkap siang hari. Untuk saat ini harus malam hari, karena habitatnya sudah mulai berkurang.

Pernah diketemukan di dalam ketika di bedah, di dalam perut katak raksasa ini, terdapat hewan-hewan kecil yang dimakan, tikus kecil, burung, serangga, laba-laba dan hewan kecil lainnya.

Menurut Amir Hamidy, Ahli binatang Amfibi dan reptil dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), ini masih wajar, karena jelas semua katak adalah Carnivora (hewan pemakan daging), dan bukan vegetarian

Sebenarnya apabila di budidayakan dengan benar, katak raksasa Enrekang ini bisa dimanfaatkan untuk konsumsi sekaligus bahan komoditas ekspor baru.

Dan masih Menurut Amir Hamidy, Karena sebagai mana kita tahu bahwa Indonesia merupakan negara peng-ekspor katak terbesar di dunia, dan yang paling banyak di ekspor adalah dari jenis katak sawah Fejervarya Cancrivora, ini merupakan cermin potensi fauna dari Indonesia.

Cuma, saat ini katak-katak yang di ekspor masih merupakan hasil eksploitasi dari alam dan bukan dari hasil budidaya katak, ini salah satu yang akan mengancam kelestarian.

Tantangan pemanfaatan katak adalah upaya budidayanya. Pada saat yang sama, Indonesia perlu mengidentifikasi potensi. Dengan sumber daya alam yang kaya, Indonesia saat ini malah mengimpor bullfrog. Rata-rata setiap tahun ekspor mencapai 4.000 ton. Dengan perbandingan setiap kilogram berisi 22 katak, harga bisa Rp80 juta.

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker