site stats
Indonesia

3 Maskot Asian Games 2018 adalah hewan yang terancam punah

Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta – Palembang, memiliki tiga maskot utama, yakni Bhin-Bhin yang melambangkan burung Cendrawasih, burung khas Papua, kemudian Atung yang digambarkan sebagai Rusa Bawean, dan Kaka yang diwakili seekor Bacusa alias Badak Bercula Satu atau sering disebut Badak Jawa.

Ketika maskot ini tentu sering menghiasi iklan dan reklame, bahkan penampakan ketiga maskot ini kadang lucu dan menggemaskan.

Tapi tahukah kalian kalau ketiga hewan yang dipakai sebagai maskot Asian Games 2018 sedang dalam kondisi kritis alias terancam punah.

Badak Jawa

Badak Jawa masuk dalam kategori kritis dengan jumlah sekitar 50 – 70 ekor. Dengan hanya sekitar 50 ekor individu di alam liar, spesies ini diklasifikasikan sebagai sangat terancam (critically endangered) dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature).

Badak Jawa pernah hidup di hampir semua gunung-gunung di Jawa Barat, diantaranya berada hingga diatas ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut. Pada tahun 1960-an, diperkirakan sekitar 20 sd 30 ekor badak saja tersisa di TN Ujung Kulon.

Populasinya meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 1967 hingga 1978 setelah upaya perlindungan dilakukan dengan ketat, yang didukung oleh WWF-Indonesia. Sejak akhir tahun 1970-an, jumlah populasi Badak Jawa tampaknya stabil dengan angka maksimum pertumbuhan populasi 1% per tahun

Status badak Jawa dilindungi sejak 1931 di Indonesia, yang diperkuat dengan penetapan Ujung Kulon di barat daya pulau Jawa sebagai taman nasional sejak 1992.

Rusa Bawean

Rusa Bawean Axis Kuhlii), menurut Wikipedia juga masuk dalam kategori terancam punah, Rusa Bawean pertama kali diidentifikasi pada tahun 1845 sebagi Cervus Kuhlii. Bemmel (Semiadi, 1999).

Sejak pertama kali rusa Bawean ditemukan oleh para peneliti, tidak pernah dilaporkan secara rinci keadaan populasi di habitat aslinya.

Catatan tertua yang membahas secara selintas tentang keadaan populasi rusa Bawean ini adalah dari hasil publikasi tahun 1953. Dilaporakan bahwa ke tika tahun 1928 dilakukan exspedisi penelitian tentang rusa ini dihabitat aslinya, para peneliti tidak dapat menemukan sekor rusapun di lapangan, terkecuali beberapa ranggah yang telah luluh yang dibawa oleh masyarakat setempat

Pulau Bawean sebagi habitat asli dari rusa Bawean, terletak 150 km sebelah utara Surabaya, dikawasan Laut Jawa. Luas total Pulau Bawean sekitar 190 kmĀ² dengan daerah yang bergunung (400-646 m dpl) berada di sekitar barat dan tengah pulau

Burung Cendrawasih

Terakhir untuk burung Cenderawasih atau sering di sebut burung surgawi burung asli dari Papua – Indonesia, juga mengalami nasib serupa, terancam punah karena sering ditangkap sebagai hewan peliharaan dan tak sedikit yang dijual di pasar gelap.

Juga salah satu penyebab menurunnya jumlah populasi cenderawasih adalah pembalakan liar. Dengan berkurangnya jumlah hutan di Papua menyebabkan cenderawasih kehilangan tempat tinggalnya.

Bahkan pemekaran kabupaten baru, pembangunan akses jalan, pemukiman penduduk menjadi penyebab cenderawasih kehilang tempat tinggal mereka. Tak sedikit sarang cenderawasih bersama telur dan anak yang baru menetas ditemukan hancur.

Burung cendrawasih merupakan anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Mereka ditemukan di Indonesia timur, pulau-pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur.

Burung anggota keluarga ini dikenal karena bulu burung jantan pada banyak jenisnya, terutama bulu yang sangat memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap atau kepalanya. Ukuran burung cendrawasih mulai dari Cendrawasih Raja pada 50 gram dan 15 cm hingga Cendrawasih Paruh-sabit Hitam pada 110 cm dan Cendrawasih Manukod Jambul-bergulung pada 430 gram

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker